Entri Populer

Sabtu, 15 Oktober 2011

INTERIOR

1. Elemen-Elemen Pembentuk Ruang

Elemen Pembentuk Ruang

Elemen Pembentuk Ruang adalah struktur wadah ruang kegiatan diidentifikasikan

sebagai lantai, dinding, dan langit-langit/Plafond yang menjadi satu kesatuan struktur dalam sehari-hari. Elemen pembentuk ruang terdiri dari :

a. Lantai

Selain berfungsi sebagai penutup ruang bagian bawah, lantai berfungsi sebagai pendukung beban dan benda-benda yang ada diatasnya seperti perabot,manusia sebagai civitas ruang, dengan demikian dituntut agar selalu memikul beban mati atau beban hidup berlalu lalang diatasnya serta hal-hal lain yang ditumpahkan diatasnya.(Mangunwijaya, 1980 : 329). Dalam kelangsungan kegiatan, pemilihan jenis pelapis lantai akan ditinjau dari macam atau jenis kegiatannya, dan pada umumnya dikenal beberapa klasifikasi dari penyelesaian

lantai seperti berikut: untuk lantai keras sifat pemakaian lebih baik dan banyak

menguntungkan, karena pembersihan yang mudah. Sedangkan lantai yang jenisnya medium lebih bersifat hati-hati. Syarat-syarat bentuk lantai antara lain:

(1) Kuat, lantai harus dapat menahan beban,

(2), Mudah dibersihkan,

(3) Fungsi utama lantai adalah sebagai penutup ruang bagian bawah. lainnya adalah untuk mendukung beban-beban yang ada di dalam ruang. (Ching,1996)

Selain itu elemen horizontal bawah juga dapat divariasikan dengan dinaikkanatauditenggelamkan. Semakin banyak beda ketinggian elemen horizontal bawah dengan sekitarnya, 'rasa' keterpisahan ruangnya semakin kuat.

b. Dinding

Dinding bangunan dari segi fisika bangunan memiliki fungsi antara lain :

1) Fungsi pemikul beban di atasnya, dinding harus kuat bertahan terhadap 3 kekuatan pokok yaitu tekanan horizotal, tekanan vertikal, beban vertikal dan daya tekuk akibat beban vertikal tersebut.

2) Fungsi pembatas ruangan, pembatasan menyangkut penglihatan, sehingga manusia terlindung dari pandangan langsung, biasanya berhubungan dengan kepentingan– kepentingan pribadi atau khusus. (Mangunwijaya, 1980 : 339)

Warna dinding juga berpengaruh pada kesan ruang, warna-warna yang mengkilat lebih banyak memantulkan sinar sebaliknya warna buram kurang memantulkan sinar. Warnawarna yang terang memberikan kesan ringan dan luas pada suatu ruang, sedangkan warna gelap memberikan kesan berat dan sempit (Suptandar, 1982; 46). Selain warna, dinding juga merupakan bidang yang secara leluasa dapat dihias sesuai dengan selera. Cara menghias dinding menurut Pamuji Suptandar (1985: 30);

(1)Membuat motif-motif dekorsi dengan digambar, dicat, dicetak, diaplikasikan dan dilukis secara langsung didinding.

(2) Dinding ditutup atau dilapisi dengan bahan yang ornamentik atau dengan memasang hiasan-hiasan yang ditempel pada dinding.

Berikut kesimpulan arsitek Benyamin A. Handler dengan cara menghayati

besaran ruangan sebagai berikut :

1.Ruang yang rendah supaya terkesan tinggi

Arsi013- Seluruh dinding ditempel dengan pelapis

yang bermotif garis-garis tegak lurus

- Pelapis dinding ditempel sampai ceiling

tanpa ada pembatas diantaranya

- Ceiling diberi penyinaran yang terang

direct light, ataupun indirect light.

1. Ruang tinggi agar terasa rendah

- Arsi013Menempelkan pelapis dinding dengan

motif yang sejajar secara horizontal

- Pelapis dinding ditempel sampai ceiling

- Pelapis dinding yang serupa juga ditempel

pada ceiling

- Penyinaran diarahkan ke arah lantai

2. Ruang kecil agar tampak memanjang

- Memasang pelapis dinding pada salah satu

sisi dengan permainan dan penekanan pada

Arsi015warna supaya kontras

- Pada ceiling dipasang motif bergaris lurus

memanjang

- Pada dinding tatapan dipakai warna ringan jika dibanding dengan warna yang bersebelahan

3. Ruang kecil agar terkesan besar

- Menggunakan pelapis pada sisi dan ceiling

Arsi016dengan warna yang cerah, bermotif lembut

- Menggunakan pelapis dinding bermotif

garis tegak lurus dan menghindari warna kuat

- Pelapis memberi efek mengkilap dengan

bahan sutra tetapi bila mengkilapnya

terlampau banyak akan membosankan

- Sedapat mungkin dibuat bukaan-bukaan dengan dinding-dinding kaca agar tampak menyatu dengan alam luar (exterior).

Arsi017

4. Ruang luas supaya tampak sempit

- Keempat dinding diberi pelapis warna-warna

tua/kuat

- Motif pola dengan pola-pola besar

- Pelapis dinding bergaris diagonal dengan

warna kuat

Warna dinding juga berpengaruh pada kesan ruang, warna-warna yang mengkilat lebih banyak memantulkan sinar sebaliknya warna buram kurang memantulkan sinar. Warna-warna yang terang memberikan kesan ringan dan luas pada suatu ruang, sedangkan warna gelap memberikan kesan berat dan sempit (Suptandar, 1982; 46).

efek-warna1.jpg

Selain warna, dinding juga merupakan bidang yang secara leluasa dapat dihias sesuai dengan selera. Cara menghias dinding menurut Pamuji Suptandar (1985: 30);

mural-interior-wall-trend(1) Membuat motif-motif dekorsi dengan digambar, dicat, dicetak, diaplikasikan dan dilukis secara langsung didinding.

(2) Dinding ditutup atau dilapisi dengan bahan yang ornamentik atau dengan memasang hiasan-hiasan yang ditempel pada dinding.

Ketiga elemen ini secara bersama membentuk suatu ruang, dengan kualitas ruang tertentu. Setiap pilihan mempunyai konsekuensi tersendiri terhadap kualitas ruang yang terbentuk.

Sebagai contoh, jika kita memilih membentuk ruang dengan hanya menggunakan elemen horizontal yang divariasikan dengan warna tetapi ketinggiannya sama dengan sekitarnya, maka akan terbentuk rasa ruang yang terbuka, karena kita masih bisa melakukan kontak secara fisik dan visual dengan segala yang ada di luar ruang tersebut. Hal ini berbeda sekali jika kita membentuk ruang dengan menggunakan elemen horizontal atas dan bawah serta elemen vertikal berupa dinding-dinding yang masif. Rasa ruang yang didapatkan adalah rasa tertutup.

Kita sebagai mahasiswa arsitektur sebaiknya dapat bermain-main dengan elemen-elemen ini untuk mendapatkan kualitas ruang yang kita harapkan.

.

c. Plafond

Pengertian istilah ceiling/langit-langit/plafond, berasal dari kata “ceiling”, yang berarti melindungi dengan suatu bidang penyekat sehingga terbentuk suatu ruang. Secara umum dapat dikatakan: Ceiling adalah sebuh bidang (permukaan) yang terletak di atas garis pandang normal manusia, berfungsi sebagai pelindung (penutup) lantai atau atap dan sekaligus sebagai pembentuk ruang dengan bidang yang ada dibawahnya. Fungsi ceiling memiliki berbagai kegunaan yang lebih besar dibandingkan dengan unsur-unsur pembentuk ruang (space) yang lain (seperti dinding atau lantai). antara lain:

1) Pelindung kegiatan manusia, dengan bentuknya yang palig sederhana, ceiling sekaligus berfungsi sebagai atap.

2) Sebagai pembentuk ruang, ceiling bersama-sama dengan dinding dan lantai membentuk suatu ruang dalam.

3) Sebagai skylight, di sini ceiling berfungsi untuk meneruskan cahaya alamiah kedalam bangunan. Banyak digunakan pada plaza-plaza, gallery, sebagai penunjuk sirkulasi menuju ke suatu tempat; atau pada hall suatu gedung. Pada dasarnya tempat-tempat tersebut disediakan untuk membuat suasana, memberikan perasaan lega dan lapang dan sebagai area transisi (peralihan) dari arah luar menuju ke dalam bangunan.

4) Untuk menonjolkan konstruksi pada gedung-gedung untuk dekorasi, ceiling mampu mencerminkan struktur yang mendukung beban-beban.

5) Merupakan ruang atau rongga untuk pelindung berbagai instalasi, docting AC, kabel listrik, gantungan armature, loudspeaker dan lain-lain. Di balik ceiling perlu ada rongga guna kperluan pengontrolan-pengontrolan jika terjadi kerusakan pada instalasi-instalasi.

6) Sebagai bidang penempelan titik-titik lampu.

7) Sebagai penunjang unsur dekorasi ruang dalam, terutama pada bangunan-bangunan umum: restaurant, hall/lobby hotel dan lain-lain.

8) Bentuk ceiling dalam suatu bangunan dapat memperlihatkan sifat/kesan ruang tertentu, dengan membuat ketinggian atau garis-garis (material) serta struktur kesemuanya akan dinikmati langsung oleh penghuni yang berada dibawanya.

Perbedaan tinggi dan bentuk ceiling dapat menunjukkan perbedaan visual atau zone-zone dari ruang yang lebih luas, dan orang dapat merasakan adanya perbedaan aktivitas dalam ruang tersebut.

Elemen Pelengkap Pembentuk Ruang

a. Pintu; Menurut Ching (1996 : 220), pintu dan jalan masuk memungkinkan akses fisik untuk kita sendiri, perabot, dan barang-barang untuk masuk dan keluar bangunan dan dari satu ruang ke ruang lain dalam bangunan. Penempatan pintu berpengaruh pada sistem sirkulasi yang dipergunakan, pengarahan atau pembimbingan jalan. Bukaan pintu yang terletak pada atau berdekatan dengan sudut-sudut, dapat membuat jalur-jalur melintas disisi ruangan. Menempatkan bukaan pintu beberapa kaki dari sudut memungkinkan perabot seperti unit

penyimpanan ditempatkan menempel di sepanjang dinding. Keberadaan pintu juga dapat mengendalikan jalan keluar masuk cahaya, suara, udara, panas dan dingin. (Ching, 1996 : 112). Jalan masuk bisa dibuat lebar atau sempit. Itu tergantung dari kebijakan yang dianut peritel. Kebijakan yang menganut “ingin menyenangkan dan melayani” akan mengatur lebar jalan masuk yang membuat dua orang bisa berjalan beriringan masuk sambil berpapasan dengan dua orang dari arah berlawanan yang juga berjalan beriringan. Sebaliknya, jika kebijakannya adalah “melakukan efisiensi”, lebar jalan akan diatur cukup untuk dua orang berjalan berpapasan secara pas-pasan. Jalan masuk yang lebar banyak dipakai oleh gerai kelas atas, sementara jalan masuk yang sempit, banyak dipakai oleh gerai kelas menengah dan bawah. (Ma’ruf, 2005 : 206).

b. Jendela; Jendela dapat dilihat sebagai bagian yang terang pada dinding, jendela dapat dikembangkan sampai ketaraf dimana jendela menjadi bidang dinding fisik. Jendela yang transparan secara visual dapat menyatukan sebuah ruang interior dengan ruang luar atau dengan ruang interior disebelahnya. (Ching, 1996 : 224). Jendela adalah salah satu bukaan ruang yang berfungsi sebagai penghubung antara ruang dalam dan ruang luar baik secara visual maupun sebagai sirkulasi udara dan cahaya pada ruang tersebut. Susunan jendela yang kecil dan tinggi memberi kesan sesak mengakibatkan perasaan seakan-akan tersekap dalam sel tahanan. Lain halnya dengan jendela yang berukuran besar dan ditempatkan rendah akan

memberikan perasaan bebas. (Wilkening, 1989: 43)

2. Kualitas Ruang

Pengalaman dalam Arsitektur adalah pengalaman keruangan, bagaimana kita merasakan ruang dalam (interior), yang tentu berkaitan dengan kualitas dari interior.

image001

BEBERAPA PENENTU KUALITAS RUANG ARSITEKTUR

Beberapa penentu kualitas ruang berikut harus sesuai dengan fungsi (gerak dan perabot yang digunakan);

a. Dimensi : proporsi dan skala

image002

b. Wujud : bentuk

image003

c. Permukaan; warna, tekstur, pola

image004

d. Bukaan: tingkat ketertutupan, cahaya dan Pandangan

image005

Interior dalam arsitektur menyangkut interior yang melekat pada bangunan. Arsitek merancang interior sejak awal karena ingin memberikan kualitas tertentu pada ruang-ruang dalam bangunan yang dirancangnya, sehingga interior ini tidak dapat dirancang setelah bangunan selesai.

Pada sebuah bangunan, selain ekspresi yang muncul melalui tampak bangunan, ruang-ruang dalamnya memegang peranan penting. Biasanya arsitek akan memikirkan secara detail ekspresi, kesan, suasana ruang yang bagaimana yang harus dimunculkan dalam bangunannya. Hal ini dapat dilakukan melalui penonjolan struktur, pemakaian bahan (material), penentuan volume ruang, perletakan ruang (melalui penzoningan), hubungan-hubungan ruang, bentuk ruang, bentuk sirkulasinya, dsb. Jika arsitek mendisain bangunan secara total maka semua hal tersebut tidak luput dari pemikirannya.

Tema tertentu (dari keinginan pemilik rumah) dapat menjadi acuan dalam memperoleh ruang-ruangnya. Keterbukaan pada ruang keluarga, mungkin dengan banyak bukaan/ jendela selain untuk pemandangan keluar, atau kedekatan hubungan dengan ruang tidur setiap anak, dst.

Berikut beberapa interior rumah tinggal

image006image007Bathroom

image008image009

Bedroom Kitchen

image013image012









Dindingnya

image014Study room

Beberapa ekspresi, kesan, suasana ruang yang dapat dilakukan melalui pemakaian bahan (material) dan penentuan volume ruang seperti berikut ini tidak mengikat (tidak harus) Karena setiap rancangan interior disesuaikan dengan keinginan pemakainya.

TINGGI JENDELA

image015Tinggi jendela pada umumnya (tidak harus) pada ruang-ruang berikut ini DINDING LANTAI

Ekspresi, kesan, suasana ruang dapat dilakukan melalui pemakaian bahan (material) seperti berikut ini:

APLIKASI LANTAI (pada umumnya, tidak harus):

- Ruang Tamu : hangat atau formal

- Ruang Keluarga : padu padan yang pas

- Ruang Tidur : lembut

- Ruang Dapur : mudah dibersihkan

- Kamar Mandi : aman dengan tekstur kasar

- Tangga : kuat dan gampang dibersihkan

- Garasi dan carport: perlu lantai tahan banting- Teras : berwarna/ alami